Mahsyar
orang- orang mulai beranjak dari peraduannya
menggeliat tanpa tau apa yang dihadapinya
hanya jeritan yang terdengar
sayup lirih halus mengalun penuh rintih, ini padang mahsyar
aku mengirim sinyal dan kau menerima sinyal, meski kita saling terhubung namun hanya tak ada yang mau bersuara
—miring
Muhammad Alifa Farhan: IPK Penting?
Banyak yang berargumen IPK itu tidak penting, tapi tidak sedikit juga yg mengatakan IPK itu penting.
Ada satu kisah menarik yg membentuk pandangan saya tentang IPK.
Waktu itu saya beruntung bisa ikut serta seleksi untuk magang di Schlumberger, salah satu perusahaan idaman mahasiswa ITB. (Walaupun akhirnya ga lolos :p)
Saat sesi tanya jawab sebelum tes interview dimulai, ada yg bertanya:
Kenapa hanya yg ber IPK 3,5 yg bisa ikut tes? Seberapa penting IPK bagi Schlumberger?”
Ini jawaban salah satu pegawai schlumberger, yang kalo tidak salah manager HRDnya:
Tugas utama mahasiswa itu belajar. Orang tua kalian tahunya kalian sedang belajar disini. Dan tahukan kalian apa indikator paling sederhana dari keseriusan kalian dalam belajar? Tahukah kalian indikator paling mudah dari bentuk tanggung jawab kalian menjalankan tugas utama kalian?
IPK.
Kami mencari orang-orang yang bertanggung jawab. Bagaimana bisa kami memilih mahasiswa yang dalam menjalankan tugas utamanya saja tidak bertanggung jawab?”
—
Ini salah satu pendapat saja, pendapat kamu berbeda?
Tak apa. Dunia indah karena adanya perbedaan pendapat.
(via lifanurlifa)
ketika sang bangsat bertutur
(resensi buku)
Apa yang dilakukan rina dalam bukunya “coretan untuk seorang bangsat” menurut saya adalah merupakan dekonstruksi terhadap kehidupan nyata namun dia menfsirkannya dalam bentuk tulisan. Pemfokusan bahwa sesuatu yang marjinal di dalam sosial kemasyarakatan, semisal karakter non-utama, justru merupakan ‘pusat’ atau sesuatu yang ‘mengontrol’ seluruh makna teks. Contoh yang bagus adalah semisal pembacaan dekonstruktif terhadap kisah-kisah perempuan yang marjinalkan seperti perempuan penggangu, hamil diluar nikah, hingga pelacur dibalik menjadi seuatu yang haq. Proposisi yang bisa dimunculkan adalah pergeseran status tokoh di dalam cerita-cerita tersebut. Jika terketahui bahwa penggambaran kehidupan nyata saat ini memiliki latar sosio-historis pelecehan pada kondisi perempuan (yang teraniaya), rina justru menjadikan “perempuan terpinggirkan” sebagai tokoh utama yang membalikan kisah dari sudut pandang berbeda.





